Ketika ikut seminar konseling bertema "Memenangkan Suami/Istri Tanpa Perkataan" yang terbayang adalah bagaimana menjadi seorang istri superhero, seorang istri yang ga kalah sama suami, istri yang menangan. Tapi ternyata apa yang saya dapatkan beda dari yang saya bayangkan.
Sepanjang acara saya lebih banyak tertohok alias tersindir oleh apa yang dikatakan pembicara. Maklum kalau pas ada khotbah di gereja, saya lebih banyak nyikut lengannya dan berbisik "Tuh kan, dengerin tuh" daripada mengaplikasikannya pada diri sendiri.
Saya selalu ingin dia berubah jadi lebih baik lagi, menurut pandangan saya. Dengan kata lain saya selalu ingin mengubah pasangan menjadi seperti apa yang saya inginkan. Ironisnya saya sendiri tahu bahwa kita tidak bisa mengubah seseorang menjadi seperti apa yang kita inginkan. Walau sudah tahu tidak bisa mengubahnya, tidak pernah sedetik pun saya beristirahat untuk mengubahnya.
Ketika kemarin ikut seminar saya tidak hanya diingatkan tapi juga ditegur bahwa setiap orang berbeda dan unik, begitu juga pasangan kita. Terlintas dalam benak saya, andaikan dia memiliki watak yang sama persis dengan saya betapa membosankannya hubungan yang kami miliki.
Ketika disuruh menuliskan dua puluh kelebihan pasangan dan sepuluh kelemahan diri, saya merasakan betapa sulitnya melakukan hal itu. Dalam setiap kelebihan yang saya tulis selalu terbayang setiap kelemahannya. Saya merasakan betapa sulitnya menurunkan ego dan belajar untuk rendah hati.
Sampai seminar berakhir saya sangat bersyukur bisa mengikuti seminar ini, terlebih lagi karena pasangan juga mengikuti seminar ini. Terbayang kemajuan yang bisa kami capai setelah seminar, terbayang hal-hal yang bisa kami bicarakan berdua dan komunikasi yang mungkin akan lebih baik lagi. Doakan kami ya....