[?] Jika Kita telah menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi, tapi Kita masih sering jatuh dalam dosa, apakah Kita bisa kehilangan keselamatan Kita? Atau kalau Kita ternyata mengerti konsep keselamatan secara salah, apakah Kita masih diselamatkan?
Pertanyaan Doktrinal ini mengingatkan perdebatan yang tidak berkesudahan antara Arius dan Athanasius... Hingga terjadinya berbagai gejolak dan perpecahan hingga adanya Konsili Nicea yang menengahi... Kedua hipotesis Doktrin Keselamatan ini memiliki kekuatan dan prinsip yang sama-sama Alkitabiah. Jadi, tidak perlu diperdebatkan, namun perlu dipelajari, diuji dan direnungkan dalam lingkup anugerah Tuhan yang tidak terselami.
Tiga pendapat dominan. Seperti di bawah ini:
Pendapat Pertama: “Keselamatan itu Tidak Akan Hilang”
Jika seseorang yang jatuh ke dalam dosa karena kelemahan dan kealfaannya setelah percaya Kristus dan diselamatkan, maka dosa-dosanya itu tidak akan mengakibatkan ia kehilangan status keselamatan yang telah ia terima sebelumnya. Selain karena keselamatan orang-orang pilihan sudah ditetapkan sejak semula (‘pre-destinasi’), namun juga, karena anugerah Allah lebih besar dari pelanggaran-pelanggaran umat-Nya.
Tentunya, tidak berhenti sampai di sini saja. Jika karena berbagai faktor dan “ketidaksengajaan” atau karena ketidakberdayaan, yang mana orang percaya tidak sanggup menanggung sesuatu tekanan, sehingga “terjatuh” ke dalam dosa, segeralah bertobat dan memohon belas kasihan Tuhan dalam doa dan permohonan –- “Ampunilah kami akan segala kesalahan kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” –- jika tidak, ia “menipu” dirinya sendiri (1 Yoh. 1:8). Jalan kemurahan, “minta pengampunan” ini tidak berlaku bagi “kambing-kambing” nakal yang sengaja menghianat anugerah Allah; sebaliknya, mereka akan digiring ke penghakiman.
Perlunya pertobatan setiap waktu bagi orang percaya, juga mengingatkan status keberadaannya yang sedang menjalani “proses ‘Sanctification’”. Orang percaya dituntut hidup kekudusan, semakin serupa Kristus dengan cara membenci Dosa dan hidup dalam kebenaran. Sebaliknya, jika seseorang yang "dinyatakan atau terlihat" telah bertobat dan lahir baru serta telah menerima segala "berkat rohani", tetapi jatuh dan terhilang (“tidak bertobat”); hal itu menunjukkan bahwa, memang sejak semula ia adalah seorang yang tidak percaya atau tidak termasuk dalam rencana keselamatan. Dengan demikian, Allah tidak berkenan menyelamatkannya..." Lagipula, di Yoh. 10:25-30, Yesus mengatakan, orang yang “bukan domba-Nya".
Pengertian “Tetap Selamat”, tidak berarti kondisi itu “melegalkan” dan “membenarkan” pelanggaran dan dosa serta sikap-sikap yang tidak bertanggungjawab untuk hidup semaunya bagi setiap orang percaya. Sebaliknya, justru semakin bersungguh-sungguh. Orang yang telah diselamatkan wajib melakukan segala sesuatu yang baik dan benar sebagai wujud “ucapan syukur” dan “kesakasian”. Jika tidak, maka, periksa diri masing-masing apakah sudah menjadi milik Allah?
Pendapat Kedua: “Keselamatan Bisa Hilang”
Alasannya: (1). Tuhan itu MAHA ADIL sekalipun Ia adalah Allah yang rahmani. Kekudusan-Nya tidak bisa dipisahkan dengan keadilan-Nya. Kasih Allah berbanding lurus dengan keadilan Allah. Allah tidak senang dengan manusia yang terus hidup dalam ketidakkudusan setelah diselamatkan. (2). Allah menyelidiki hati manusia. Apabila orang percaya “sengaja” hidup berdosa semaunya karena alasan sudah diselamatkan, maka Tuhan Yang Maha Kudus tidak akan tinggal di dalam hati manusia lagi! (3). Keselamatan bukan Jaminan ke Sorga! Sebab setiap manusia suatu hari akan menghadap Tahta Putih, Pengadilan yang jujur dan adil dimana semua orang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama dalam “waktu anugerah” ini. Penghakiman inilah yang akan memutuskan apakah manusia “selamat” atau “dihukum”. (4). Selain itu, berdasarkan Kitab Suci: (a). Adanya orang yang murtad, yang “meninggalkan kepercayaan”. (b). Kemurahan Tuhan menuntut kekudusan dan kesempurnaan, tidak untuk dipermainkan. (c). Ibr. 10:26, 27, menyatakan, "...jika kita sengaja berbuat dosa, sedudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikankan, penghakiman dan api...” (d). Demikian juga, jika orang percaya melakukan dosa yang mendatangkan maut, ia tidak akan diampuni! (1 Yoh. 5:16-17).
Pendapat Ketiga: “Ragu-Ragu!”
Berikut, presentatif dari pernyataan yang menunjukkan suatu “keraguan” dalam menjawab pertanyaan: “Apakah keselamatan bisa hilang...?”
(1). Konsep keselamatan: “jika seseorang sudah menerima Kristus pasti diselamatkan.” Itu adalah yang keliru. Alasannya, meskipun seseorang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, tetapi hidupnya tidak mencerminkan kehidupan yang berkenan sesuai ajaran-Nya, “sepertinya” tidak akan diselamatkan? (2). Keselamatan itu adalah anugerah dari Tuhan, benar! Tetapi manusia juga harus mengusahakan perbuatan baik dan menaati perintah-Nya. (3). Keselamatan itu bisa hilang dan bisa tidak. Tidak! Jika kita tidak peduli terhadap dorongan Roh Kudus untuk bertobat. Ya! Karena Roh Kudus mempunyai banyak cara untuk membuat kita bertobat.
Akibat Pemahaman Konsep Keselamatan yang Salah
Jika seseorang memiliki konsep, bahwa “ada keselamatan” di luar Yesus, maka konsep itu “SALAH TOTAL” dan berakibat pada kebinasaan kekal. Allah telah menunjukkan cara yang ajaib namun sederhana untuk menyelamatkan orang yg dikasih-Nya melalui Yesus Kristus. Di luar itu, tidak!
Bila orang Kristen memiliki konsep keselamatan dalam pengertian doktrinal, yang salah! Ia tetap diselamatkan? Alasannya: Doktrin tidak menyelamatkan, hanya Yesus saja! Jika pernyataan ini meragukan, maka... “Biar Yesus yang mengadili!” Namun, alasan paling mendasar dalam pernyataan ini adalah, bahwa Allah tidak menghakimi karena “ketidaktahuan” manusia. Tetapi, Allah menghakimi berdasarkan Firman dan segala pernyataan tentang Dia yang telah diwahyukan sejak purba kala -– berdasarkan Kitab Suci.
Dalam hal ini, orang percaya tidak dibenarkan “melegalkan” dan “bertekun” dalam mempertahankan “Konsep yang Salah”, misalnya ajaran doktrin yang bersumber dari: filsafat-filsafat manusia, dongeng nenek-nenek tua, tradisi-tradisi kekafiran dan juga “kebenaran-kebenaran” yang bersumber dari yang tidak kudus (Iblis atau Antikritus). Sebaliknya, seseorang berpegang pada konsep yang benar atas dasar penyelidikan Kitab Suci dan kesaksian iman sepanjang zaman. Namun, hendaknya ia mengujinya dan mendapatkan kebenaran yang sejati berdasarkan bimbingan Firman Tuhan dan Roh Kudus saja. Di luar Kitab Suci, konsep iman adalah RELATIF, sebaliknya konsep iman yang Alkitabiah, secara MUTLAK membimbing pada keselamatan. Alkitab “CUKUP” untuk memberikan informasi untuk keselamatan. Jadi, ujilah konsep iman kita, selebihnya, “...bertekunlah, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan-Nya itu.”
JADI, Keselamatan adalah "pemberian sepihak" dari Allah. Meskipun "Allah tidak wajib atau harus menyelamatkan kita." Ia hanya menyelamatkan sesuai kesenangan-Nya. Keputusan Allah untuk menyelamatkan sebagian orang dan membiarkan sebagian lagi binasa bukan karena Allah tidak adil, tetapi untuk menunjukkan bahwa keputusan-Nya adalah di atas segala-galanya dan mutlak dan berdaulat -- keputusan keadilan tertinggi dan "tak terselami". Bukankah pada Hari Penghakiman, akan ada dua golongan manusia; golongan yang "diselamatkan" dan "yang dihukum"? Apakah kita bisa berdalih? Tidak! Karena kita memang "pantas" dihukum dan karena karena kita hanyalah "tanah liat" di tangan Penjunan, Allah sendiri. Indikator dua kelompok manusia itu adalah: "yang percaya diselamatkan dan yang tidak, akan dihukum." Selebihnya, untuk menilai apakah orang tersebut "sudah" masuk dalam hidup dan rencana keselamatan Allah? Lihatlah dari perbuatannya. Apakah ia berkenan kepada Allah atau tidak. "dari buah-buahnyalah engkau menilai, apakah pohon itu baik atau jelek."
Jika seseorang yang "dinyatakan atau terlihat" telah bertobat dan lahir baru serta telah menerima segala "berkat rohani", tetapi jatuh dan terhilang (bertekun dalam kejatuhannya!); hal itu menunjukkan bahwa, memang sejak semula ia adalah seorang yang tidak percaya atau tidak termasuk dalam rencana keselamatan. Artinya, kelihatannya saja, ia adalah orang percaya, tetapi pada dasarnya hatinya menjauh dari Allah dan hidup dalam dosa. Dengan demikian, Allah tidak berkenan menyelamatkannya. Dengan ini, "Hendaklah masing-masing orang [kita] menguji dirinya sendiri; apakah ia berkenan kepada Allah atau tidak."
Keselamatan yang kita responi berdasarkan dorongan Roh Kudus itu harus dikerjakan dengan benar. Karena sikap dan tindakan benar yang keluar dari hidup orang percaya seringkali menunjukkan bahwa ia “setuju” dengan kehendak Allah.
Kesulitan “orang Kristen” menerima “misteri” pengajaran tentang keselamatan Alkitab ini adalah karena "ia memang merasa tidak pantas untuk diselamatkan". Selain itu, "karena ada juga yang tidak mampu menyelami betapa murah hati-Nya Allah di satu pihak", ketika Ia menyelamatkan seseorang dari kerusakkan totalnya. Pengajaran ini seharusnya memotivasi kita untuk bersungguh-sungguh dengan keyakinan dan tanggungjawab kita di hadapan Allah, Pencipta kita. Apalagi setelah kita mengetahui kebenaran itu!
Demikian.
Kontributor:
Anton Priyadhi - Chatty Mintje - Christian Yanto - David Ho - Dedy Yanuar - Dwi Wong - Ivan Hariman – Iwan – Joshua - Lilik Sulistiawati - Loudy Rauan – Oktavianus - Victor Prahara - Yohanna Prita Amelia – Yuli - Yulien Djong - Yuli Rahayu - Evelyn Natalia - Gerard Binilang
Sola Gratia,
Riwon Alfrey