Berperang Atas Nama Tuhan

Berperang atas nama Tuhan,
melakukan tindakan penganiayaan terhadap sesama, bersikap diskriminasi terhadap
agama-agama yang berbeda jelas tak memiliki dasar pembenaran, dengan kata lain,
pastilah ada yang salah dalam tafsir tentang Tuhan yang menjadi dasar
pembenaran bagi kekerasan agama, baik terhadap agama yang berbeda, atau untuk
mereka yang dianggap bidat, bahkan terhadap mereka yang mengaku ateis
sekalipun.

Kekerasan agama yang terjadi,
bukan hanya pada masa lalu, tetapi juga yang masih saja terus terjadi pada masa
kini, khususnya di Indonesia, sesungguhnya tak perlu terjadi jika kita memahami
sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa yang berarti
pengakuan akan kedaulatan Tuhan atas Ciptaan, sayangnya, nilai-nilai Pancasila
yang begitu penting itu, kini makin dipinggirkan, setidaknya itu benar
berdasarkan laporan survey gerakan nasionalis baru-baru ini.

Tuhan memang tak memerlukan
peneguhan tentang siapa diri-Nya, karena keberadaannya adalah absolud. Tapi, ruang tafsir tentang Tuhan,
tentu saja terbuka lebar, meski tetap saja keberadaan Tuhan yang independen itu
tak terpengaruh dengan lebelisasi yang ditempelkan pada diri-Nya.

Keragaman tafsir tentang Tuhan
sebenarnya juga wajar saja, karena sifat-Nya yang transenden, dan itu mestinya menjadi dasar bahwa penolakan klaim
kemutlakan tafsir tentang Tuhan, apalagi itu juga terkait erat dengan
keterbatasan manusia, yang tak bebas dari salah. Pada kondisi itulah kebutuhan
reinterpretasi tentang Tuhan harus terus dilakukan, apalagi jika tafsir itu
dijadikan dasar bagi tindakan yang tidak manusiawi. Namun, reinterpretasi
tentang Tuhan itu sendiri juga tak perlu dicurigai sebagai penyangkalan akan
hakikat dan keberadaan Tuhan, tetapi lebih pada kesadaran untuk menemukan
kesejatian itu sendiri.

Jika kita setuju bahwa semua
manusia dicipta oleh Tuhan, maka, tentulah kita juga harus setuju bahwa Tuhan
itu berdaulat atas semua ciptaan, dan otomatis itu akan melahirkan suatu
pengakuan bahwa Tuhan adalah Tuhan atas semua manusia dan juga Tuhan atas semua
agama, karena tak seorangpun yang memiliki otonomi, pada hakikatnya semua manusia
berada dibawah kedaulatan Tuhan.

Pemahaman bahwa Tuhan berdaulat
atas semua manusia itu menggiring kita pada kesadaran, semua manusia
bertanggung jawab kepada Tuhan, dan tak seorangpun boleh menjadikan dirinya
Tuhan apalagi untuk menghakimi sesamanya, atau untuk menjatuhkan hukuman pada
sesama manusia, karena kedaulatan ada ditangan Tuhan, dan tak pernah diserahkan
pada manusia, atau agama-agama. Itulah sebabnya kita percaya kebebasan hati
nurani harus dihormati, karena kedaulatan Tuhanlah yang meniscayakannya, dan
dengan demikian tibalah kita pada kesimpulan, kekerasan atas nama Tuhan,
terhadap sesama manusia, meski terus berlanjut dan dilakukan oleh banyak orang
yang mengakui tunduk pada Tuhan, sama saja dengan menyangkali kedaulatan Tuhan
atas manusia.

Untuk Indonesia, keragaman tafsir
tentang Tuhan itu mengkristal pada sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan keberadaan
ini diakui oleh semua agama, bahkan aliran sekular/komunis pada waktu itu,
tidak berkeberatan dengan pengakuan tersebut. Artinya, manusia Indonesia
mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan semua manusia Indonesia, agama apa pun dia, Tuhan
itu berdaulat atas semua manusia di bumi ini.

Sila pertama dari Pancasila ini
kemudian diakui, menjiwai ke-empat sila lainnya. Maka, jika kita mengakui Tuhan
adalah Tuhan atas semua manusia Indonesia, dan Tuhan yang sama itu menginginkan
kita menghargai martabat manusia (Kemanusiaan Yang adil dan Beradab), Hidup
dalam persatuan (sila ke 3), hidup saling memberi dan menerima untuk dapat
membuat konsensus bersama yang hidup yang lebih baik (sila ke-4), dan dalam
keadilan (sila ke-5). Tujuan yang ingin dicapai dalam pengamalan sila-sila dari
Pancasila itu adalah mewujudkan Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, dan
tujuan itu sesuai dengan sifat-sifat Tuhan sebagaimana di rumuskan dalam
Pancasila.

Negeri ini dahulu terkenal dengan
toleransinya, di negeri ini agama-agama bisa bertumbuh dengan subur, bahkan
Arnold Toynbee seorang sejarahwan kondang itu pernah mengakui bahwa di negeri
ini tak pernah terjadi perang agama, negeri ini diakui sebagai surganya
agama-agama, dimana semua agama dapat tumbuh dengan subur, dan itu bisa terjadi
karena para pendahulu kita mengakui bahwa semua manusia Indonesia memiliki
Tuhan yang Esa, dan Tuhan itu berdaulat atas setiap manusia Indonesia, sebagaimana
tertulis dalam sila pertama dari Pancasila.

Dengan demikian jelaslah
Pancasila yang telah menjadi landasan filosofis, etis bangsa Indonesia
sebagaimana ditetapkan oleh founding father mesti dijaga oleh semua rakyat Indonesia.
Pancasila harus menjiwai setiap orang Indonesia pada
masa kini untuk terus maju dan mengalami perubahan

Binsar A. Hutabarat