Suara hati mahasiswa STT SETIA dari pengungsian

di Bumi Perkemahan Cibubur, 6 Agustus 2008.

- Diusir dari rumah sendiri, di negeri sendiri, di ibukota RI.

- Adakah kemerdekaan di republik ini?

Hari ini kami, mahasiswa SETIA, akhirnya
diungsikan ke Bumi Perkemahan Cibubur. Sudah sepuluh hari kami diusir
dari asrama dan kampus kami dan kami sudah tidak belajar lagi sama
sekali. Pemerintah berjanji membawa kami kembali ke kampus dan asrama
kami tetapi justru sekarang kami tinggal di tenda-tenda. Sampai kapan?

”Bagi
saya hanya sekolah ini yang dapat menampung dan menyekolahkan kami
orang-orang desa. Orangtua kami miskin tetapi sekolah ini membuka
kesempatan bagi kami kuliah di perguruan tinggi.
Kami menatap masa depan dengan penuh harapan, tetapi karena peristiwa
ini, cita-cita kami mungkin akan berhenti sampai di sini. Sekarang kami
tinggal di pengungsian, di bumi perkemahan Cibubur karena kampus dan
asrama kami tidak bisa ditempati. Mama suruh saya pulang saja, tetapi
Papa minta saya untuk bertahan. Kami menghimbau pemerintah menegakkan
keadilan. Pemerintah segera mengambil tindakan agar kami dapat segera kembali ke kampus
dan asrama untuk melanjutkan kuliah,”
ungkapan hati Silpa Mau, semester 7, asal desa Mawar, Alor, NTT.

Saya merasa hancur hati karena tempat yang kami sayangi dirusak warga. Kami merasa kecewa dan sakit hati.
Kami dididik di sini adalah untuk melayani orang-orang di desa yang
tidak terjangkau. Saya mengharapkan dukungan doa dari gereja-gereja
Tuhan. Kami sebagai anak-anak desa yang tidak mampu dan tidak punya
apa-apa supaya diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah kami. Bagi
aparat pemerintah, yang sebenarnya mengetahui keadaan kami, bagaimana
seandainya memiliki anak perempuan tetapi berada di pengungsian seperti
kami-kami ini? Pasti kan merasa sedih. Tapi karena tidak mengalaminya,
jadi tidak merasa apa-apa dengan keadaan kami,
ungkapan hati dari Seprianti Datu, semester 3, asal desa Simbuang, Toraja, Sulawesi Selatan.

”Tadinya
saya membayangkan akan sekolah dengan baik. Bangga pakai baju putih
AkPer. Tapi setelah ospek, saya terheran-heran tiba-tiba peristiwa ini
terjadi. Saya takut tapi saya akan tetap tinggal saja. Sudah mahal-mahal ongkos datang dari sana.

Saya
mengharapkan dukungan doa dari orang-orang Kristen agar kami bisa
kembali ke kampus dan asrama kami. Saya juga mengharapkan agar Gubernur
Papua bersuaralah. Papua sangat membutuhkan banyak perawat. Perhatikan
kami. Gubernur Kalimantan Barat datang melihat warganya di pengungsian,”
ungkapan polos dari Merince, asal Wamena, Jayawijaya, yang sebenarnya baru 2 bulan di Jakarta.

”Saya berharap para mahasiswa dari PT lain agar tetap mendukung dan mendoakan kami. Kalau pun sampai mengalami hal seperti ini kita tidak menyalahkan Tuhan tapi tetap introspeksi diri apa rencana Tuhan, pasti ada maksud Tuhan.

Papa ingin saya pulang. Tapi mama minta tetap bertahan,”ungkapan hati yang tegar dari mahasiswi sederhana gadis Sunda Ratna Ningrum, semester 7, asal desa Darmareja, Sukabumi.

”Saya merasa sedih sekali. Mengapa
diusir dari rumah sendiri. Saya berharap pemerintah dapat meresponi dan
memberi perhatian kepada kami agar kami dapat kembali ke kampus dan
asrama kami untuk melanjutkan studi. Saya tetap bisa
bersyukur kepada Tuhan karena pasti ada rencana Tuhan yang lebih baik
untuk masa depan Kampus Setia ”
ungkap Mesrawati Zega, asal Nias, desa Luahabouse, semester 7.

Itulah
ungkapan dan curahan hati yang hancur dari beberapa rekan kami. Itu
mewakili curahan kami semua mahasiswa SETIA. Dukung dan doakanlah kami
agar bisa melalui masa-masa yang sulit ini.

Kami
juga menghimbau agar pemerintah (khususnya Pemrov. DKI) yang sudah
berjanji membawa kami pulang, memenuhi janjinya. Kami adalah anak
kandung negeri ini, anak-anak pedesaan yang berusaha memperbaiki masa
depan melalui pendidikan di SETIA. Di manakah kebenaran konstitusi kita
bahwa pemerintah akan melindungi segenap warga negara republik ini? Apa
artinya kita sudah merdeka 63 tahun.

Cibubur, 6 Agustus 2008

Dari mahasiswa-mahasiswi yang mengungsi di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

.